Mei 14, 2021

SABILUL KHAYR AL IBANA

Lillah Fillah Billah

Kajian zoom untuk muslimah mt Maryam dan mt Nisa as Sunnah.

Ahad 1 rabiul awal 1441H. 18 Oktober 2020. Bada Maghrib.

Ustad Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

—-
بسم الله الرحمن الرحيم.

PRAHARA RUMAH TANGGA

(sebuah tinjauan kasus dan sekaligus pemecahannya).

 

Allah subhanahu wa taala berfirman,

Qs Ar Ruum ayat 21.

Fase kehidupan manusia diantaranya adalah rumah tangga.

Rumah tangga bisa menjadi satu bagian surga dari surga dunia dan akhirat.

Pun, ia bisa menjadi satu jurang dari jurang nestapa dan neraka.

Setiap orang pasti menginginkan rumah tangga yang sakinah mawadah wa rohmah.

Namun, rumah tangga semacam itu, tidak hanya boleh menjadi hiasan “surat undangan pernikahan”, namun juga wajib di wujudkan setiap pasangan. Kita garis bawahi “setiap pasangan”.

 

SEBAB-SEBAB PRAHARA:

– niat yang salah sejak awal pernikahan.

Bentuk bentuk salah niat dan salah jalan:

~ mengawali pernikahan dengan pacaran.

~ menikah dengan niat selain Allah. Baik dari sisi paras, harta dan semisalnya.

~ adalah tujuan tujuan syahwat (semata).

– adanya ego yang di kedepankan:

Contoh contoh ego:

~ menuntut pasangan Sempurna, sedang ia penuh kekurangan.

~ menang menangan, baik suami ataupun istri.

~ tidak ada musyawarah dan pembicaraan, semua hal merasa mampu di lakukan sendiri, dan tidak menghargai pasangan.

~ mencurigai pasangan, dan tidak ada saling percaya, bahwasanya pasangan akan mampu memberikan perhatian, tanggung jawab dan pelindung.

~ Saling mengklaim hak, tanpa tau kewajiban. Sehingga suasana rumah tangga sebagaimana pengadilan.

– adanya ketidak dewasa an dan wibawa dalam berumah tangga, tanggung jawab juga perhatian.

 

Contoh contoh dalam masalah ini:

~ tidak ada tanggung jawab suami dalam hal nafkah

~ suami bersikap ke kanak Kanakan

~ dinginnya suasana dan tidak ada kehangatan

~ merasa superior karena merasa sebagai suami dan menjadikan istri sebagai sahaya

~ intervensi pihak luar

~ hilangnya ketaatan dari pihak istri

~ membandingkan kondisi suami dengan pihak lain

~ letupan perasaan lama sebelum adanya pernikahan terutama orang lain (CLBK).

Solusi:

Kira menemukan, orang orang yang dahulunya sama sama jahil, namun mereka bisa lebih baik berumahtangga setelah mereka mendapatkan hidayah sunnah,

Dan sebaliknya kita menemukan, berbagai masalah sebagian penuntut ilmu dalam rumah tangga mereka,

Setelah kami diagnosa, hal ini terkait kebiasaan mereka sebelum hijrah, dan permasalahan yang terkait (sebelum hijrah itu) setelah hijrah.

Maka hendaknya kita tidak menjustifikasi bahwa rumah tangga orang yang ngaji lebih banyak masalah dari orang yang tidak ngaji dalam berumah tangga.
Sedikit di sini kami akan menyingung tentang seputar taadud (semoga Allah memberikan kelapangan waktu).

Taadud adalah bagian dari syariat Islam. Tidak bisa di pungkiri.

Ia adalah solusi dari sebuah masalah, bukan masalah itu sendiri.

Kita temukan orang orang yang berpoligami dan mereka bahagia dengan hal itu, bahkan beberapa kasus, istri mereka yang mencarikan.
Namun kita temukan juga, beberapa kasus dan itu dominan, yakni permasalahan seputar ini, baik oleh orang umum atau orang ngaji, dan menjadikan buruk syariat satu ini, bukan dari sisi syariatnya, namun lebih pada individu pelaku.

Sebab sebab utama gagalnya poligami:

– Dari sisi suami.

~ berpoligami dengan niat salah, kurang ilmu, coba coba, dominan syahwat, dan merasa sok mampu dengan itu serta tidak melihat kemampuan diri.

Dari pihak istri:

~ kurangnya pemahaman ilmu tentang syari’at poligami, ego yang besar bahwa mereka menyangka cinta itu : menguasai sepenuhnya, adanya tabiat cemburu dan iri, juga dominasi kepada suami.

Solusi:

Dari sisi suami:

Hendaknya suami mengkondisikan diri sebelum berpoligami, mendalami ilmu, dan jangan sekali kali niat poligami adalah syahwat (dominan), atau coba coba, dan juga jangan jumawa serta melihat kemampuan diri, ingat tujuan poligami bermakna bertambahnya tangung jawab dan kedewasaan, bukan pelampiasan syahwat semata.

Dari sisi wanita:

Hendaknya istri, bila melihat suaminya bertanggung jawab, setia, dan dewasa serta ia melihat bahwa suaminya berlebihan dengan semua perhatian dan pemberian, hendaknya ia membuka hati untuk berbagi. Mencari keridhaan Allah, dan mendorong suami untuk belajar menjadi guru dan pembimbing bagi wanita wanita lain, mengecilkan ego, dan tidak menguasai segala aspek suami.
Bila semua ini di tempuh dan di laksanakan dengan baik, insya Allah, rumah tangga akan baik.

Meskipun penulis tidak mempersaksikan rumah tangga nya adalah rumah tangga yang sempurna. Namun Alhamdulillah, dalam mengarungi (tentunya dengan berbagai konflik dan duka cita) rumah tangga berjalan baik selama ini semata atas bimbingan Allah taala.
Kami berharap, Allah memberikan kepada kita semua Taufiq dan bimbingan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.

 

Sidoarjo, oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

Mt Maryam. Mt Nisa as Sunnah. Mt Aisyah as Sunnah. Pis salaf. Ukhuwah fil hijrah. Manhaj salaf.
——
Ustadz Abu Abd Rahman

Share