Mei 14, 2021

SABILUL KHAYR AL IBANA

Lillah Fillah Billah

Hukum Wasiat

FIQIH

Hukum wasiat

ustad abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

Dari Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu anhum bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

ما حق امرىء مسلم له شيء يوصي فيه يبيت ليلتين إلا و وصيته مكتوبة عنده.

Tidak berhak seorang muslim untuk tidur dalam dua malam sedangkan ia memiliki harta yang akan diwasiatkan, melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.

(HR mutafaqun alaihi. Muslim 1627)

Wasiat bermakna menyambungkan.

Yakni seorang menyambungkan apa yang telah di tetapkan pada waktu hidupnya atau setelah kematiannya.

Contoh: penetapan seorang bahwa setelah kematiannya ia memberikan barang, harta, lunasnya hutang atau hal lainnya yang bermanfaat, yang akan menjadi hak milik orang yang menerima wasiat itu setelah meninggal nya pemberi wasiat.

Allah subhanahu wa taala berfirman,

كتب عليكم إذا حضر احدكم الموت إن ترك خيرا الوصية للوالدين و لاقربين بالمعروف حقا على المتقين .

Di wajibkan atas kalian bila terasa tanda kematian telah menghampiri nya, bila ia meninggal kebaikan yang banyak (yakni harta) supaya berwasiat untuk orang tua serta orang orang dekatnya secara baik, sebagai bentuk kewajiban bagi orang orang yang bertaqwa.

(Qs Al Baqarah ayat 180)

Dari sini hukum membuat wasiat untuk nasehat, atau terkait harta untuk kerabat dan orang orang yang tidak mendapatkan warisan yang dekat dengannya, adalah wajib, bila ia memiliki harta.

Sedangkan wasiat tidak boleh untuk ahli waris,

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berkhutbah pada hari Arafah,

إن الله قد أعطى كل ذى حق حقه ، فلا وصية لوارث.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk memberikan hak kepada setiap pemilik hak akan haknya, maka tidak ada wasiat (terkait harta) untuk ahli waris.

(HR Ibnu Majah 2194)

Di sini, ahli waris terkait harta, mereka tidak mendapatkan wasiat, karena hak mereka telah di tetapkan dalam warisan, dan telah di tetapkan jatah mereka oleh Allah.

Seberapa ukuran wasiat untuk orang lain, selain ahli waris, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda terkait wasiat kepada Sa’ad bin Abi waqqos,

فالثلث و الثالث كثير.

Bila engkau hendak mewasiatkan, wasiatkan seperti tiga saja, dan seperti itu sudah banyak (selebihnya untuk Ahli waris).

(HR mutafaqun alaihi)

Kapan wasiat di laksanakan,

Yakni setelah di selesaikan sangkutan berupa hutang dan lainnya,

قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالدين قبل الوصية.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam biasa menyelesaikan/ menetapkan hutang sebelum membagi wasiat.

(HR Ibnu Majah 2195)

Lihat juga an Nissa ayat 11.

Hendaknya juga wasiat-wasiat itu berisi: nasehat, menyambung silaturahim dan kekerabatan.

Di antara wasiat itu, hendaknya berisi untuk dirawat jenazahnya sesuai syariat, juga berisi peringatan agar tidak mengadakan kebid’ahan setelah kematiannya seperti meratap, ataupun yasinan dan tahlilan dan kemungkaran lain yang merata saat ini.

Di samping itu, juga bisa berisi, wasiat untuk cucu, yang orang tua (cucu) mereka telah meninggal, sebelum orang tua mereka (kakek) yang membuat warisan ini, bila ada kejadian seperti itu, agar mereka juga di berikan hak mereka di luar warisan yang cucu itu tidak berhak dan terhalang oleh paman dan bibi mereka yang hidup.

Juga bisa berisi, untuk memberikan harta kepada dakwah Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan ataupun individu individu yang di kenal agar mereka di penuhi hak haknya setelah kematiannya.

 

Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

___

Share