Jun 24, 2024

Sabilulkhayr Al Ibana

Lillah Fillah Billah

Rajab Di Antara Bulan Haram

🌕 RAJAB DI ANTARA BULAN HARAM 🌕

 

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram.

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
(QS. At-Taubah: 36).

Ibnu Rajab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

”Allah ﷻ menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah ﷻ pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah ﷻ menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Satu tahun dalam syari’at Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”
(Latha-if Al Ma’arif, 202).

▫️ Lalu apa saja empat bulan suci tersebut?

Dari Abu Bakrah, Nabi ﷺ bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. *Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (Akhir) dan Sya’ban.”
(HR. Bukhari No. 3197 dan Muslim No. 1679).

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

 

➡️ Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram?

Al Qadhi Abu Ya’la rahimahullahu ta’ala mengatakan,

”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

– Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

– Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan dari pada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan”.
(Lihat Zaadul Maysir, Tafsir surat At-Taubah ayat 36).

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu ta’ala mengatakan,

”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya”.
(Latha-if Al Ma’arif, 214).

Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

”Allah ﷻ mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak”.
(Latha-if Al Ma’arf, 207).

 

➡️ Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latha-if Al Ma’arif Hal. 203.

 

➡️ Hukum yang Berkaitan dengan Bulan Rajab

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak.

Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus.

Ibnu Rajab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

”Tidak diketahui dari satu orang Shahabat radhiyallahu ‘anhum pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut”.
(Lathaif Al Ma’arif, 210).

Begitu juga dengan menyembelih (berqurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ’atiirah atau Rajabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ’atiirah sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ’atiirah sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

”Tidak ada lagi fara’ dan ’atiirah”.
(HR. Bukhari No. 5473 dan Muslim No. 1976).

Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

”Tidak ada lagi ’atiirah dalam Islam. ’Atiirah hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ’atiirah pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ’ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu”.

Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhum sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ’ied.

’Atiirah sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ’ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ’ied (perayaan) kaum Muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ’ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.

Ada sebuah riwayat,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.

“Nabi ﷺ melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied”.
[HR. ’Abdur Razaq, hanya sampai pada Ibnu ’Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thabraniy dari Ibnu ’Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi ﷺ].

Ibnu Rajab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

”Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum Muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ’ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ’ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ’ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ’ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah)”.
(Latha-if Al Ma’arif, 213).

 

✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. حفظه الله تعالى.

🖇️ sosmed.sabilulkhayr.com

•┈┈•⊰•●🅢🅚🅐🅘●•⊱•┈┈•

🔖 Join WA: sabilulkhayr.com/join
🌐 Web: www.sabilulkhayr.com
🎥 YT: youtube.com/c/sabilulkhayrtv
📧 Twitter: twitter.com/sabilulkhayr
🌏 FB: facebook.com/sabilulkhayr
✉ Telegram: t.me/sabilulkhayr
💬 Line:
📻 Radio: radio.sabilulkhayr.com
📢 Broadcast:
📮 Tanya Jawab: t.me/tjsabilulkhayr
📱 Aplikasi: sabilulkhayr.com/aplikasi
📑 Ta’awun: sabilulkhayr.com/ta'awun
🛍️ SKAI Market: market.sabilulkhayr.com
📷 IG: Instagram.com/Sabilulkhayralibana
📲 IG SKAI BC: Instagram.com/skaibroadcast
🛒 IG SKAI Market: Instagram.com/skai_market
💌 IG SKAI Berbagi: Instagram.com/skaiberbagi

💰 Infaq Dakwah SKAI

🏧 BANK SYARIAH INDONESIA (EX BSM)
| Rekening : 1231237883
| Kode Bank : 451
| Atas nama : SKAI OPERASIONAL

Infaq Pulsa SKAI ke nomor: 081265557612

Mohon untuk Konfirmasi ke:
wa.me//6288263891871

SKAI Center
📲 sabilulkhayr.com/skaicenter

📡 Silakan dibagikan! Raih pahala dengan membantu menyebarkan kebaikan.